Selasa, 14 Maret 2017

Bang Alif 2 Tahun, Alhamdulillah





Aku menikmati setiap detiknya menjadi seorang ibu. Membersamai Alif setiap waktu. Sungguh semuanya adalah anugerah terindah dalam hidupku. Kebahagian buatku. Saking bahagianya, aku pun kemudian lupa, bahwa dua tahun yang lalu dadaku pernah bergemuruh. Jantungku berdegup kencang, dan suasana mendadak menegangkan. Aku memasuki ruang operasi sendirian. Horor banget. Aku harus melakukan operasi Sectio Caesaria atau sering disebut sesar, agar bayi yang kukandung segera terselamatkan.

Saat mengandung Alif aku mengalami kehamilan postern -kehamilan yang lewat dari waktu perkiraan dokter-. Sudah masuk empat puluh minggu aku dan suamiku mulai ketar-ketir, karena belum ada tanda-tanda cinta dari janin dalam rahimku. Mungkin ia masih dalam proses persiapan bertemu dengan Ummi dan Abinya. Entahlah.

Aku menjadi lebih sering berburu informasi penting tentang kehamilan lewat bulan. Sampai-sampai aku mendadak cerewet tanya ini itu ke salah satu grup keren di aplikasi WhatsApp. Grup ini sangat membantu sekali. Sehingga aku selalu mendapatkan energi positif dari member-membernya yang ikut berbagi. Tapi tak jarang juga aku was-was ketika ada beberapa teman yang usia kehamilannya sama bahkan lebih muda, tapi sudah melahirkan duluan. Kok aku belum lahiran juga?

Pada minggu-minggu ini aku sering ke dokter, melakukan cek USG dan CTG – Cardiotocography; Pemeriksaan detak jantung janin pada saat kontaksi dan tidak. Hasilnya masih baik-baik saja. Orangtua pun, akhirnya menyarankan agar kami tetap menunggu hingga ia memberikan dorongan alami untuk menemukan jalan keluarnya. Ya, jalan lahirnya. Tapi sudah lewat hampir tiga minggu belum juga ada tanda-tanda. Aku belum pernah merasakan apa-apa, seperti kebanyakan ibu hamil lainnya. Seperti sakit pinggang, kontraksi dan mulas teratur atau keluar flek. Tidak sama sekali. Bahkan segala usaha agar merangsang proses pembukaan sudah aku lakukan. Dari mulai olahraga sampai makan buah nanas dan durian yang konon bisa memacu kontraksi. Tapi hasilnya? Nihil!

“Anak sholehnya Ummi, yuk cari jalan keluarnya. Nanti Ummi bantuin. Ummi sama Abi udah kangen sama anak sholeh. Pengen cepet-cepet ketemu.”

Kubisikkan sebuah harapan setiap saat sambil mengelus perut buncitku. Mengajak kerjasama kepada janinku agar segera mendorong jalan keluarnya. Setiap sujud selalu kupanjatkan segala doa dan pinta untuk keselamatan calon buah hatiku.

Ketika memasuki minggu ke empat puluh tiga, aku melakukan pemeriksaan. Tepat hari Kamis tanggal 12 Maret 2015. Apapun hasilnya akan segera kuputuskan. Biasanya setiap periksa kehamilan, aku hanya berdua dengan suamiku saja. Namun kali ini kami mengajak Ibuku ke rumah sakit di bilangan Kota Bogor. Tujuannya agar sama-sama tahu kondisi kandunganku saat itu. Karena beliau yang selama ini meminta agar aku menunggu sampai ada tanda-tanda melahirkan.

Rumah sakit ini bukan tempatku biasa periksa kehamilan, namun dokter obsgynku kebetulan sedang praktek di sana. Ya, RS Bunda Suryatni namanya.

“Plasentanya sudah mengalami pengapuran grade tiga, Bu. Sehingga sudah sulit menyuplai nutrisi makanan untuk janin. Bayi harus segera dilahirkan,” kata dokter cantik yang sedang memeriksaku sore itu. Dia adalah dokter obsgynku, dokter Farahdina.

“Jika ibu mau, kita bisa melakukan induksi terlebih dahulu. Namun persentase keberhasilannya fifty-fifty,”  ia melanjutkan.

“Lakukan yang terbaik, Dok. Kita usahakan normal dulu saja. Kata suamiku yang sejak tadi ikut memandang layar USG. Ibuku hanya menggangguk pelan. Aku, tentu saja manut.

Lingkar kepala besar. Perkiraan berat badan janin 3,6 kg. Untuk ukuran anak pertama memang besar. Dokter menyimpulkan karena itulah menjadi penghambat mengapa aku tidak bisa merespon hormon oksitosin dalam tubuhku. Hormon ini sangat penting untuk bukaan jalan lahir bayi. Namun ini hanya perkiraan saja, karena penyebab kehamilan postern belum diketahui pasti. Entah itu karena genetik atau karena memang kondisi tubuhku yang tidak bisa respon dengan hormon yang paling berpengaruh ini. Dokter akan melakukan induksi guna memberikan hormon oksitosin. Berharap ada bukaan secara alami sehingga aku bisa menjalani proses melahirkan dengan normal.

***
Pukul 23.12 WIB aku sudah berbaring di ruang tindakan. Ada dua selang yang menjuntai dipasangkan ke tubuhku. Asupan oksigen dan sebuah infusan hormon oksitosin. Di sana aku menangkap wajah-wajah yang menegangkan dengan senyum yang dipaksakan. Ya, ada suami dan ibuku yang selalu menguatkan.

“Ummi tenang saja, kita lakukan usaha maksimal buat kelahiran normal anak kita,” kata seseorang yang kini kupanggil Abi, dia lelaki hebat yang pernah kutemui.

Tidak pernah menyesal menjadi pendamping hidupnya. Bahkan masih terukir jelas saat ia ucap janji suci di depan orangtua, penghulu dan para saksi. Kamis, 3 April 2014 adalah hari bahagia kami. Semoga terjalin hingga akhirat nanti.

“Iya, Bi. Aku nggak mau operasi.” Kataku lirih. Pipiku basah, ada aliran hangat dari mataku.

Aku benar-benar khawatir saat itu. Aku sangat takut dengan operasi. Seumur hidupku baru kali ini berbaring di ruang tindakan. Bahkan, berada di ruangan operasi pun belum pernah terbayangkan. Doa terbaik tak henti-hentinya kupanjatkan. Semoga Allah mengabulkan, tidak dengan operasi sesar melainkan melahirkan dengan normal.

****

Jumat, 13 Maret 2015

Sekitar pukul 05.30 WIB seorang perawat sibuk melihat alat CTG yang sudah semalaman terpasang. Mereka selalu melakukan cek pada janinku setiap sembilan puluh menit sekali. Sudah sekitar enam jam hormon yang diberikan kepadaku tidak berpengaruh apa-apa. Bahkan semalaman itu aku bisa tidur nyenyak karena kontraksi tidak terjadi sedikit pun.

“Ini nggak baik,” katanya membuyarkan lamunanku.
“Kenapa, Sus?” tanya suamiku langsung menyambar.
“Detak jantung anak Bapak melemah.”

Ya Rabbi. Kenapa dengan anak kami? Aku terdiam. Perawat dan suamiku sedang melakukan diskusi dengan hasil akhir CTG itu. Aku enggan mendengarnya. Aku hanya ingin anak yang kukandung bisa selamat. Apapun caranya aku ikhlas. Tidak lagi memikirkan takutnya tindakan operasi. Bahkan jika harus kutukar dengan nyawaku, aku siap. Yang terpenting keselamatan buah hatiku. Namun tetap saja, otakku langsung berputar. Membayangkan proses menyeramkan itu.

“Bi, aku nggak mau operasi,”  kataku lirih.
“Ummi harus kuat. Demi anak kita,” kata suamiku sambil menghapus bulir hangat yang mengalir di pipiku.
“Doain aku dan anak kita ya, Bi. Maafin Ummi jika ada salah”
“Doain ya, Mi. Maafin Ella jika banyak salah sama Ummi,” aku meminta doa juga kepada ibuku yang masih menemani.
“Jangan mikir macam-macam ya. Pokoknya banyak Istighfar saja. Ada Allah, nak!”

Dengan berpasrah diri aku memasuki ruang operasi. Tentu sudah lengkap dengan pakaian hijau yang menambah horor saja. Benar, aku langsung lemas bukan main. Tensi darah langsung turun. Dokter membisikkan agar aku tetap tenang dan banyak berdoa. Bagaimana tidak, ruangan itu sungguh menyeramkan. Hanya dua warna yang tampak kontras dipandang. Ruangan serba putih dan seragam hijau tim dokter yang khas. Aku tidak tahu pasti jumlah dokter di ruangan itu. Mungkin jika kukira-kira ada sekitar tujuh dokter dengan tugasnya masing-masing. Aku dibius setengah saja, sehingga masih terdengar jelas suara yang khas. Seperti gunting yang beradu sampai benturan baskon stenless yang kutaksir adalah tempat alat-alat medisnya. Jiwaku bergejolak tak karuan. Aku mual hebat. Mau bicara pun rasanya tidak bisa.

Hoek! Sepertinya ini efek dari biusan yang disuntikkan ke punggungku tadi. Sehingga ia tidak bersahabat dengan perutku.

“Alhamdulillah, laki-laki Bu anaknya. Nangisnya kenceng banget, ya, suara samar-samar seorang dokter.

Bang Alif 2 Tahun, Alhamdulillah, love story of birthing, Ella Nurhayati, http://kataella.blogspot.co.id/, cerita melahirkan, ruang operasi, kelahiran postern, kisah melahirkan, perjuangan ibu

“Beratnya 3,8 Kg, panjangnya 51 cm. Semuanya lengkap, sehat dan selamat.”  Katanya lagi melanjutkan.

Benar saja. Pagi ini sekitar pukul tujuh kurang empat menit anakku sudah lahir. Tanggal 13 Maret 2015 di hari yang barokah, Jumat Mubarak. Hari yang sangat kusukai. Dokter langsung melekatkan bayi mungil itu ke atas dadaku untuk melakukan IMD – Inisiasi Menyusui Dini. Namun hanya sebentar saja. Karena proses penjahitan harus segera diselesaikan.

Ternyata operasi tidak seperti yang kubayangkan. Tidak seperti film horor yang pernah kutonton. Prosesnya hanya sebentar. Jika sakit setelahnya jelas wajar. Inilah perjuangan.

Saat itu perasaanku campur aduk. Kepalaku seperti mau pecah saja. Perutku mual sampai tak sadarkan diri. Beberapa jam kemudian seluruh tubuhku terasa sakit. Biusnya sudah habis. Ahh, luar biasa perjuangan ini. Untuk bergerak pun sulit sekali. Itu sebabnya hari pertama aku dirawat, dokter sudah memasangkan selang kateter - selang yg digunakan untuk membantu mengeluarkan urine secara otomatis dari kantung kemih. Yang jelas aku bahagia. Anakku sehat dan selamat. Rasa sakit itu sudah terbayar lunas dengan kebahagiaanku. Jagoan kecilku sudah menjadi pelengkap hidup. Alif Fathul Hadi. Nama yang kami berikan padanya. Semoga menjadi anak yang membanggakan. Pembuka segala kebaikan.


Kusematkan panggilan “Abang” untuknya agar ia menjadi jiwa yang kuat. Menjadi panutan untuk adik-adiknya kelak. Tertanam sikap leader yang bertanggung jawab.

------------------





------------------
Note: Ini tulisan lama, ada dalam buku antologi Love story of Birthing.

Rabu, 24 Agustus 2016

Inilah Lima Fakta Unik Pengendara Motor Wanita




Bismillah...

Haaaaaa... (bernapas lega) Yuhuuu, akhirnya aku balik lagi ke dunia per-blog-an. Setelah entah berapa abad bertapa di gua kehidupan *alah lebay*

Jangan ditanya kenapa, ya. Biasaaa, emak-emak sibuk aye nih. LOL

Betewe kita alihkan topiknya, jadi kali ini aku mau bahas emak-emak kalau bawa kendaraan. Kita ngomongin lady biker dulu, ya. Alias pengendara motor wanita. Eh bukan emak-emak doang sih, abege-abege juga banyaaaak. Pokoknya kaum hawa. 

Pernah nggak sih Sahabat Elsya nemuin di jalan, ada lady biker yang bikin gemes emes emesss? Atau bikin tensi naik drastis tis tis tis? Kalau aku sih pernah, bahkan sering banget. Padahal siapa tahu pas aku lagi bawa motor, biker-biker di belakang lagi gondokan juga ya karena lihat ulah aku yang bawa motor nggak becus. Heuh semoga aja enggak.

Jadi gini, kebiasaan buruk lady biker memang sudah dikenal luas di masyarakat. Sampai-sampai nih, banyak meme lucu bertebaran di dunia maya dengan tema ibu-ibu naik motor.

Aku sih bingung ya, entah karena kurang tahu atau nggak mau tahu. Soalnya banyak banget nih para lady biker kurang mematuhi aturan lalu lintas. Dan parahnya karena itu, bisa memicu terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Contoh, lampu sen yang nyala sebelah kiri, tapi kok beloknya ke kanan. Waduh waduh... galau amat yak.

Apa saja sih fakta uniknya?

Pertama, wanita itu mengedepankan penampilan daripada keamanan dan taat aturan. Coba deh perhatiin para pengendara motor, yang paling banyak atributnya rapi siapa? Wanita atau pria? Ya, pria kan? Soalnya nih, kebanyakan wanita ogah-ogahan pakai atribut lengkap. Padahal untuk keselamatan dan kesehatan. Contohnya: pakai jaket motor, body protector, sarung tangan, masker, helm, dll. Nah atribut-atribut ini nih penting banget.

“Lagian deket kok, Cuma ke situ doang!”

“Aduh, nggak mau pake jaket yang itu, kayak bapak-bapak”

“Nggak usah pakai helm ahh, deket aja kok. Lagian nggak bakalan ada polisi. Nih rambut udah dicatok, ntar nekuk-nekuk”

“Nggak usah pakai helm dulu ahh, ntar aja pulangnya, sayang nih jilbabnya ntar ‘mengsong-mengsong’, berantakan deh.”

Daaaan berbagai macam alasan lainnya. Hah, kalau kayak gini kan ribet, Guys. Jaket motor untuk wanita kan banyak yang bagus, masa kamu nggak mau sih pakai jaket. Kalau keseringan kena angin saat berkendara, nggak baik juga untuk kesehatan.

Helm juga, yuk jadikan helm sebagai kebutuhan berkendara yang utama. Bukan lagi soal takut ditilang polisi, tapi karena kita peduli dengan keselamatan sejak dini. Bukan lagi memikirkan penampilan, tapi karena kita warga yang taat aturan.

Biasanya emak-emak malah ribet ngurusin pilih kaca mata keren, syal cantik, kalung dan perhiasan lainnya, bahkan pakai high heels dan tas soren yang digempit di ketiak. Aduh cyin, mau bawa motor kok kayak mau ‘fesyen show’.

High heels menurutku bahaya banget deh buat para biker, turunnya jadi nggak leluasa. Khawatir keseleo. Kalau mau pergi ke kantor mending plastikin dulu high heelsnya. Pake sendal atau sepatu biasa jadi pilihan yang tepat. Tapi kalau memang sudah terbiasa, ya terserah sih. Yang penting hati-hati.

Untuk tas juga, hindari tas yang digempit ketiak ya, aduh bahasanya apa ya, itu loh tas tante-tante yang talinya pendek. Kalau dipakai perhatian kita jadi terbagi dua, pertama nahan tas biar nggak jatoh, kedua konsen sama jalan. Hayoo, mending pakai tas ransel atau tas selempang yang talinya panjang, bisa disimpen di depan. Jadi bawa motornya nggak ribet.


Lima Fakta Unik Pengendara Wanita, kebiasan buruk pengendara wanita, lady biker, pengendara wanita, rok celana, jual rok celana, Ella Nurhayati, http://kataella.blogspot.com/
Sumber: google image

Kedua, lady biker hobi ngerem mendadak. Aduh, Mak. Jangan ngerem mendadak dong, kasian yang di belakangnya. Nggak usah mikirin cicilian panci atau tagihan listrik dulu, kalau di jalan ya udah fokus saja sama keadaan jalannya. Berikan jeda waktu untuk berhenti. Kalau bahasa kerennya, ambil ancang-ancang.

Lagian kalau sering ngerem ngedadak tuh, bukan bahaya doang. Tapi bikin mesin motor cepet rusak. Remnya cepet aus, aduh sok tahu banget aku yak.

Ketiga, main hape sambil bawa motor. Aduh Ya Allah, suka bingung sama lady biker yang satu ini. Maunya apa ya? Hidupnya sibuk bener, sibuk mainin hape saat bawa motor. Udah tahulah yaa, apa bahayanya? Nggak usah dibahas deh. Gemesss soalnya!


Lima Fakta Unik Pengendara Wanita, kebiasan buruk pengendara wanita, lady biker, pengendara wanita, rok celana, jual rok celana, Ella Nurhayati, http://kataella.blogspot.com/
Sumber: google image

Keempat, Jaket dibalik. Ayooo, angkat tangannya para lady biker yang pernah kayak gini... Jaket kok dibalik? Katanya sih tujuannya biar ketutup. Lah, di seletingin dong. Atau pilih jaket yang cocok untuk bawa motor. Lagian, tekhnisnya kalau pakai jaket dibalik tuh bikin ribet loh. Tangan jadi nggak leluasa pegang stang motor. Kok tahu? Berarti pernah dong? Hehehe, sering lihat soalnya. Dan mereka itu emang kelihatan banget ribetnya. 

Kelima, memakai celana dan rok yang terlalu pendek atau terlalu panjang. Dua-duanya kurang tepat juga nih. Kalau terlalu pendek pasti jadi bahan tontonan gratis di jalanan. Mending mulus, kalau banyak tambalan? Ih, geuleuh. Kalaupun mulus juga, sayang dong dipamer-pamer. Orang juga punya kok. Ingeeet, aurat aurat, *duh ceramah.

Begitu pun kalau terlalu panjang, khawatir ‘keserimpet’ nyangkut di motor, bahaya deh. Nyamannya, kalau berangkat pakai gamis atau rok, pakai celana panjang juga yang pas. Tidak ngetat juga tidak terlalu lebar ke mana-mana.

Atau solusinya adalah pakai rok celana, hehehe *promosi*. Iya, Mak. Pakai rok celana tuh nyaman banget kalau bawa motor, mau ‘ngejegang’ juga nggak bakalan keliatan, tetep tampil beauty dan syari walaupun bawa motor. Apalagi motif dan bahannya yang cantik banget. Beuh, kepoin deh akun instagramnya @jualrokcelana. Ujung-ujungnya malah promosi nih. Nggak apa-apa, promosi kalau bermanfaat ya sah-sah saja.


Lima Fakta Unik Pengendara Wanita, kebiasan buruk pengendara wanita, lady biker, pengendara wanita, rok celana, jual rok celana, Ella Nurhayati, http://kataella.blogspot.com/
Doc: rumah elsya

Nah, sahabat Elsya, ini nih lima fakta unik lady biker atau pengendara motor wanita. Entah itu abege labil, tante-tante, sampe emak-emak pernah deh kayaknya punya kebiasaan unik ini. Tapi semoga kita para wanita bisa lebih bijak lagi dalam berkendara. Salah satunya untuk pencegahan angka kecelakaan di jalan. 

Beberapa survei pernah dilakukan, tapi aku nggak tahu ya data statistiknya, hehe. Kalau salah nggak usah ngedumel. Diem aja, Iyain aja biar cepet kelar nih tulisan. Sebagian besar, kecelakaan motor atau mobil di jalan adalah pengendara pria. Nah itu penyebabnya adalah karena ulah unik pengendara wanita. Titik.

Senin, 06 Juni 2016

Kuat Menjalankan Puasa Saat Menyusui

Kuat Menjalankan Puasa Saat Menyusui, kiat berpuasa untuk ibu menyusui, ibu menyusui, puasa ibu menyusui, ASI, puasa ramadhan, Ella Nurhayati, http://kataella.blogspot.com

Bulan Ramadhan adalah waktu yang ditunggu-tunggu oleh umat muslim. Bulan suci ini menjadi kesempatan yang baik bagi kaum muslimin untuk meraih manfaat sebesar-besarnya. Baik manfaat pahala ibadah, maupun manfaat kesehatan. Kita akan bersiap menghadapi bulan puasa dengan sepenuh hati. Lalu bagaimana dengan mommies yang sedang menyusui?

Sebagian besar mungkin mommies tidak kuat berpuasa karena mengeluarkan ASI. Maka sebaiknya tidak memaksakan diri, karena bukan tindakan bijaksana bagi seorang ibu menyusui menjalankan puasa tapi mengganti ASI dengan susu kaleng untuk sang anak. Tuntaskan dahulu, Moms, haknya untuk menerima ASI.

Tapi, jika kita mampu berpuasa serta kondisi keduanya sehat-sehat saja, tidak masalah kok. Agar dapat berjalan lancar, mommies perlu mengatur strategi yang tepat. Siasat yang baik adalah dengan melakukan pengaturan pola makan dan minum, pengaturan aktivitas sehari-hari, perhatian ekstra dan strategi khusus untuk penyakit kondisi tertentu, serta persiapan mental. Puasa bisa penuh, anak pun masih bisa menerima haknya menikmati ASI dari mommies. Apa saja sih strategi itu? Simak yuk, Moms!

1.      Niat
Segala sesuatu harus didasari dengan niat Lillahita’ala. Insya Allah dengan niat dan tekad yang kuat, kita bisa berpuasa sambil menyusui. Niatkan dalam hati bahwa mommies ingin berpuasa sebulan penuh untuk beribadah kepadaNya.

Jangan lupa juga untuk selalu berkomunikasi dengan anak sesering mungkin. Katakan padanya puasa Ramadhan adalah kewajiban setiap umat islam. Niatkan pula bahwa mommies harus mengedukasi anak sedini mungkin. Dengan begitu kelak ia akan terbiasa dengan perintah-perintah Allah SWT.

2.      Percaya diri
Nah, percaya diri penting banget, Moms. Percaya deh bahwa dengan berpuasa ASI akan tetap lancar. Karena jika kepercayaan itu hilang, hanya akan membuat hormon produksi ASI menurun. Sebagai emak-emak memang harus dalam keadaan tenang dan percaya diri.

Cara menumbuhkan percaya diri itu salah satunya adalah banyak-banyak mencari informasi dan sharing dengan teman seperjuangan. Rajin-rajinlah membaca buku-buku tentang tatanan berpuasa untuk ibu hamil dan menyusui atau membaca artikel singkat di internet. Jangan ragu untuk berbagi cerita kepada teman yang juga sedang menyusui. Dengan begitu mommies akan saling menyemangati. Hingga percaya diri pun akan tercipta dalm diri. Insya Allah puasa lancar tanpa ada yang memaksa hati.

3.      Tetap makan tiga kali sehari
Mommies harus tetap mempertahankan jadwal makan sehari tiga kali. Tentunya dengan asupan gizi yang seimbang. Baiknya 50% karbohidrat, 30% protein dan 20% lemak. Waktu makannya pun harus diatur dengan rapi. Ketika sahur, berbuka puasa dan menjelang tidur. Insya Allah dengan asupan yang cukup, kita mampu menjalankan puasa tanpa keluhan apa pun. Tapi ingat, Moms, perut tidak bisa serta merta dipaksakan menerima makanan yang banyak. Makan pun harus tetap diatur dengan cara sedikit-sedikit tapi sering. Jadi, tidak hanya makan utama saja, namun dibantu dengan cemilan-cemilan sehat lainnya.

Oh iya, konsumsi makanan yang bisa mempertahankan ASI juga penting lho. Makanannya apa saja? Ya, seperti kacang-kacangan: tempe, tahu, bubur kacang hijau, sari kedelai,  dan lain-lain. Sayuran yang mengandung beta karoten juga bisa memperlancar ASI, misalnya: wortel, bayam merah, tomat, ubi merah sekaligus sumber karbohidrat, buah bit dan masih banyak lagi.

Makanan sederhana seperti sayur katuk juga sudah bukan rahasia umum lagi kan? Ini memang bisa membuat ASI penuh terus. So, pilihlah makanan yang tepat untuk menjaga ASI tetap terjaga.

4.      Konsumsi cairan yang banyak
Cairan sangat perperan penting bagi tubuh. Terlebih saat berpuasa. Minimal minum air putih dua liter ya, Moms. Diasumsikan delapan gelas. Jangan sampai kurang, kalau lebih malah bagus. Nah, mommies bisa mengatur dua liter air minum itu dari mulai berbuka puasa hingga imsak tiba. 

Contoh pembagiannya sebagai berikut:
Buka puasa: 1 gelas
Saat makan setelah salat magrib: 1 gelas
Sebelum tarawih: 1 gelas
Pulang tarawih: 1 gelas
Sebelum tidur: 1 gelas
Bangun tidur: 1 gelas
Saat sahur: 1 gelas
Sebelum imsak: 1 gelas

Jangan lupa juga tambah cairan dari buah-buahan. Dengan begitu mommies tidak akan kekurangan cairan saat menyusui di siang hari. Karena cadangan cairannya tetap terpenuhi di malam hari.

5.      ASIP (ASI Perah)
Untuk mommies yang full time mom, mungkin jarang mempompa ASI, karena selain lebih praktis juga lebih dianjurkan langsung menyusu. Namun biasanya produksi ASI di malam hari lebih banyak, sehingga payudara mommies bisa bengkak dan banjir ASI. Tidak ada salahnya mulai menjadwalkan pumping di malam hari. Simpan ASIP dalam botol kaca khusus untuk menyimpan ASIP di freezer.

Nah, ASIP ini gunanya untuk diberikan kepada si kecil, saat siang hari ketika kondisi Mommies sudah menurun. Biasanya menjelang berbuka, tubuh akan terasa lemas. Diharapkan dengan pemberian ASIP, nutrisi anak tetap terpenuhi, kewajiban pun tetap dijalani. Namun dianjurkan jangan menggunakan botol dot ya, Moms. Pakai media lain saja seperti sendok atau cup feeder.

Penting sekali untuk diingat adalah semakin dikeluarkan maka produksi ASI akan semakin banyak. Jadi, jangan khawatir dengan memerah ASI, produksinya akan menurun. Apalagi membatasi memberikan ASI kepada bayi, ini bukan cara yang tepat untuk menjalankan puasa.
Bagaimana dengan mommies yang working mom? Ya, tetap jalankan jadwalnya memerah ASI di siang hari. Untuk menambah stok ASIP di freezer, Mommies bisa menambah waktu memerah di malam hari, ketika produksi ASI sedang meningkat. Sebelum dan setelah tidur adalah waktu yang dianjurkan untuk pumping. Di waktu-waktu itu produksi ASI sedang meningkat.

6.      Istirahat yang cukup
Sebagai ibu menyusui yang sedang menjalankan puasa, mommies harus mengatur pekerjaan atau aktivitas sehari-hari. Jika sudah merasa perlu istirahat maka istirahatlah. Jangan memaksakan diri. Ikutlah dengan jadwal tidur si kecil. Bagi mommies yang full di rumah, pekerjaan rumah tangga bisa dikerjaan di malam hari sebelum tidur. Tidak usah ragu untuk meminta bantuan suami agar pekerjaan diselesaikan bersama. Insya Allah semuanya akan terasa ringan.

7.      Suplemen makanan
Konsumsi suplemen dengan teratur sangat penting, Moms. Tidak hanya makan dan minum saja, namun suplemen pun menyempurnakan asupan nutrisi. Mommies bisa pilih suplemen yang disukai. Misalnya: madu, sari kurma, habbatusauda, dan masih banyak lagi. Yang menjadi perhatian adalah, suplemen itu aman untuk ibu menyusui.

8.      Periksa kesehatan
Nah, ini trik yang terakhir dan yang paling penting dari semuanya. Sebelum memutuskan untuk menjalankan puasa sebulan penuh, mommies harus mengkonsultasikan terlebih dahulu ke dokter. Khawatir kondisinya tidak memungkinkan. Terlebih jika mommies mempunyai riwayat penyakit yang bisa membahayakan kesehatan.

Kalau pun bisa berpuasa, jika di tengah perjalanan diharuskan berbuka, maka jangan ragu untuk membatalkannya. Kita tidak lagi memikirkan ego sendiri, namun yang lebih utama adalah keselamatan bersama, kesehatan mommies dan si kecil yang masih menyusu.

Well, semoga Allah memudahkan niat baik kita untuk berpuasa dengan penuh di bulan Ramadhan. Insya Allah, berpuasa adalah sarana melatih diri untuk lebih kuat dan sehat dalam mengatur pola makan sehari-hari. Selain itu berpuasa pun membiasakan diri untuk selalu mengabdi pada Ilahi. Mengajarkan sejak dini nilai-nilai Islam kepada sang buah hati.